USS Gerard Arford berlayar menuju Timur Tengah usai diperintahkan Washington di tengah negosiasi yang tidak berjalan mulus antara Amerika Serikat dan Iran. Kapal Induk Ford akan memperkuat USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu merapa di perairan laut Arab. Dengan bergabungnya kedua kapal induk ini, angkatan laut AS kini memiliki dua gugus tempur penuh di satu wilayah yang sama. Lantas apa yang terjadi jika dua kapal induk tersebut menyerang Iran? Dengan bergabungnya dua kapal induk, AS
bisa mengerahkan lebih dari 150 jat tempur jika perang akhirnya ditempuh untuk menundukkan Iran. Artinya, kapasitas serang udara Amerika langsung berlipat ganda. Melansir W News, USS GW ARD sendiri mampu meluncurkan serangan hingga 160 sorti per hari berkat sistem elektromagnetic aircraft launch system atau IMS yang meningkat 33% dibanding kapal induk generasi sebelumnya. Jika perang pecah, tahap pertama serangan kemungkinan dimulai dari udara. Jatur siluman F35C Lightning 2 yang sama-sama diangkut dua kapal perang ini akan
menjadi ujung tombak. Pesawat ini dirancang untuk menembus pertahanan udara canggih tanpa terdeteksi dan menyerang target militer strategis jauh di dalam wilayah musuh. Sebelum menjatuhkan bom, Squadron Udara Amerika akan mengerahkan EAG Kraula. Jat perang elektronik ini berperan dalam mengacaukan frekuensi musuh dan melumpuhkan sistem radar seperti Buffar 373 milik Iran. Saat radar dibutakan, maka ruang udara menjadi lebih aman bagi gelombang serangan berikutnya. Setelah pertahanan udara Iran dilemahkan, Chat
Fain EF Super Harnet kemudian bergerak masuk membawa amunisi berpemandu laser dan bom penghancur bangker dengan menargetkan fasilitas militer bawah tanah yang diperkuat. Serangan tidak hanya datang dari udara. Kapal perusak kelas Arlake Burky akan mengawal kapal induk yang membawa rudal temahak. Rudal jelajah ini mampu menghantam target hingga lebih dari 1600 km tanpa mempertaruhkan nyawa pilot. Karena diteragai dua reaktor nuklir baik Ford maupun Lincoln memiliki jangkauan tak terbatas. Duanya bisa bertahan di
laut tanpa batas waktu dan mempertahankan operasi udara siang dan malam secara terus-menerus sampai misi berakhir. Pengiriman USS Gerard Arford terjadi di tengah ketegangan tinggi antara Washington dan Tehera. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan menjadi sangat traumatis bagi Iran dan menyebut akan menjadi hari yang buruk jika negosiasi gagal. Di lain sisi ini menjadi perputaran cepat bagi Ford yang pada Oktober lalu dikirim trump laut Mediterania ke Karibia menjelang operasi
mendadak yang menangkap Maduro. Diperkirakan kapal induk raksasa ini akan tiba di Timur Tengah pada akhir bulan Februari ini. Yeah.
Komentar